Rabu, 28 September 2016

KUNAMAI ITU; AKU


Mengutip sebuah sajak dari seorang perangkai aksara di dunia pertwitteran, yang aku tuliskan dengan handuk masih menggantung di leher, serta omelan ibu yang menyuruhku lekas mandi untuk kemudian tidur lagi. Seperti ini, katanya.

“apa lagi yang dapat disisakan kematian, selain kenangan dan kata-kata”

-@mas_aih

1.     INI; AKU
Dan setelahnya, di sinilah aku, terduduk dengan segelas kopi dan sebuah tugas pengenalan diri dari dosen ku di perguruan tinggi. Sebut saja aku Syarwan, atau lebih lengkapnya Syarwan Hamid Pamungkas. Sebuah nama berarti yang tak ku pahami apa artinya. Pemberian ayah ku atas izin ibu ku waktu dulu, 19 tahun yang lalu.

Sejak tanggal 19 Februari ditahun 1997, aku lahir, dan dengan bangga memeluk langsung agama islam. Juga sudah bisa hidup, hidup yang di kehendaki bukan atas kemauan orang tua, melainkan sang Pencipta. Lahir sebagai anak dari suku betawi asli yang terkenal dengan warisan tanahnya, dan sifat malas untuk mau melakukan pekerjaan. Karena seperti yang orang lain sering bilang tentang suku betawi, ia hidup, hanya untuk menghentak-hentakan kaki di depan beranda, dengan segelas kopi hitam pahit di atas meja. Meski tak semua orang pada suku betawi seperti itu, tapi aku setuju-setuju saja. Asal tak menghina, ku kira tak salah jika menghargai pendapat orang lain tentang suku ku.

Aku tinggal di daerah Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Kode posnya 13738. Jika ingin tahu lebih lengkapnya lagi, silahkan saja datang ke kantor kelurahan yang berada tidak jauh dari rumah ku, atau hubungi saja di nomor 089631869xxx.

Aku, ialah anak ke empat dari lima bersaudara. Padahal, aku inginnya menjadi anak pertama, supaya punya banyak adik yang bisa ku suruh-suruh nantinya. Tapi, tak apalah, jadi anak ke empat juga tak masalah, karena uang jajan ku tak pernah kurang untuk mencukupi kebutuhan dan keinginan. Meski kadang sebal karena harus disuruh-suruh oleh ketiga abang ku yang badannya lebih besar dari ku. Mungkin, jika saja badannya lebih kecil, aku juga tak akan melawan. Sebab aku adik, yang harus tetap menghormati abang-abang ku sebagaimana mestinya.

Ketiga abang-abang ku terdiri dari satu laki-laki, dan dua laki-laki. Kalian bingungkan ?hehe. Dan satu-satunya anak perempuan dari orang tua ku ialah adik ku, yang sekarang masih sekolah dasar di SDN 04 PAGI. Kalian bisa bayangkan bagaimana ibu ku mengurus lima anak sekaligus yang didominasi sebagian besar oleh laki-laki. Semua kenakalan yang aku dan ketiga abang ku lakukan adalah kewajaran atas anak laki-laki yang ibu ku lahirkan. Meski sering merasa kesal, tapi ibu ku tak pernah menyesal, justru ia bangga memiliki banyak anak laki-laki yang sampai saat ini telah memberi banyak warna pada hidupnya. Terutama untuk abang ku yang kedua, yang mana sudah mampu memberikan kebanggan atas prestasinya yang lulus dari Akademi Keprajaan atau orang banyak mengenalnya sebagai STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negri), yang sekarang berganti nama menjadi IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negri).

Ayah ku seorang Pegawai Negri Sipil di Pusat Penerangan Markan Besar Tentara Indonesia ( PUSPEN TNI), yang terletak di daerah Cilangkap, Jakarta Timur, tak ku sebutkan kode posnya, karena aku tak tahu, kan aku bukan tukang pos hehe. Sedangkan Ibu ku, ialah ibu rumah tangga, tak membantu ayah ku mencari uang, karena waktunya sangat sibuk untuk mengurus kelima anaknya. Dan aku bersyukur, karena dengan begitu, aku tak pernah kekurangan perhatian dari ayah serta ibu ku, walau kadang sedikit nakal hehe.

Sebelum berkuliah seperti sekarang ini, dulu, aku juga pernah bersekolah, sama seperti kalian, dari SD, SMP, SMA. Hingga sekarang lulus, yang tersisa hanya tingga Ijazah, dan segudang kenangan yang tak pernah ingin dilupakan. Iya, kan ? Disekolah, aku tak pernah ingat bahwa aku pernah dapat prestasi, hanya pernah diskorsing dan tidak naik kelas, serta mendapat surat pemberitahuan bahwa aku telah dikeluarkan dari sekolah ku dulu, waktu SMP. Aku tanya kenapa, guruku bilang aku nakal. Padahal, aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Jika salah, bukankah sudah tugas guru untuk mau membenarkan ? Sudahlah, kalian percayakan bahwa aku pernah bersekolah ? Jika kalian tidak percaya, aku bisa membuktikan. Akan aku beri tahu apa itu SD, SMP, dan SMA. Tapi sebentar, aku mau minum kopi ku dulu hehe.

SD adalah sekolah dasar. Sedangkan SMP adalah sekolah menengah pertama. Dan SMA adalah sekolah menengan atas. Aku pasti benarkan ?

Dan kalian tahu apa yang unik daripada sekolah SD, SMP, dan SMA ? Bahwa huruf pertama yang mengawali semuanya adalah sama, yaitu huruf S hehe.

Waktu kecil, aku tergabung pada sekolah dasar Madrasyah Ibtidaiyah Pondok Karya Pembangunan ( MI PKP ) selama enam tahun lamanya. Meski lokasinya berada ribuan centimeter, tapi sekolah dasar ku ini sangat dekat dengan rumah ku. Sedangkan sekolah SMP ku terbagi menjadi dua, yang pertama di SMPN 233 Jakarta Timur, yang kedua adalah SMP PGRI 9 Jakarta Timur juga. Sekolah SMP ku ini lebih jauh, perjalanannya bisa menghabiskan waktu sekitar 2.000 detik untuk bisa sampai ke sekolah dari rumah ku. Dan dibanding dengan SD dan SMP ku, sekolah SMA ku ini tidak begitu jauh, hanya sekitar 500 meter jaraknya dari rumaku, yang namanya adalah Madrasyah Aliyah Negri 15 ( MAN 15 ) Jakarta Timur. Sekolah SMA ku ini keren, bukan kataku, tapi kata teman-temanku, tak tahu apa yang keren, tapi sepertinya memang keren. Ah entahlah, aku malas memikirkannya.

Dulu, 14 tahun yang lalu. Aku punya cita-cita yang begitu mulia, menjadi dokter namanya, yang menyembuhkan orang sakit. Tapi sekarang, cita-citaku ialah ingin punya cita-cita, karena pada waktu SMA, aku masuk ke dalam jurusan IPS, yang katanya tak bisa bila ingin menjadi dokter. Dari situ juga, aku mendapat cita-cita baru, yang akan aku wujudkan pada masa kuliah ku ini. Doakan, ya. Semoga terwujud. Nanti, aku traktir, deh.

Aku ini gemar pada hal-hal yang menyenangkan. Sedangkan hobi ku adalah melakukannya. Dan hal-hal yang kusenangi adalah, banyak. Jika aku sebutkan, terlalu panjang dan bertele-tele. Jika kau memang sungguh-sungguh ingin tahu, datangi saja diriku, kapan pun kau mau. Aku siap bercerita, dan sebagai gantinya, kau harus mendengarkan, ya. Bila perlu, catat. Takut nanti kau lupa hehe. Atau hubungi saja alamat emaiku; pamungkassyarwan@gmail.com untuk menentukan kapan kita bisa bercengkrama. Tapi jangan lupa, traktir aku kopi, dan kue, ya!

Aku ini adalah penyuka hujan, Kau tahu kenapa ?  Karena ketika rintiknya bergegas datang, aku merasa senang melihat orang-orang berlalu-lalang. Mencari ruko-ruko kosong untuk kemudian berteduh, lalu beranjak pulang. Aku juga penyuka kopi. Ketika aromanya masuk kedalam paru-paru, ku rasakan hangat begitu kental di dalam jiwaku. Menghidupkan lagi nafas-nafas sendu, yang hari lalu sempat terasa kaku. Dan aku juga penyuka musik. Penyuka aliran mellow dari genre bertemakan indie. Yang manakala berteman dengan sepi, tembus kepala ku dengan kenangan-kenangan menyerupa rindu.

Untuk sebagian kecilnya, seperti itulah diriku. Tak ku ceritakan semua, sengaja, karena nanti, jika kau tahu semuanya tentangku, aku yakin kau tak akan tertarik lagi kepadaku. Biar saja kita penuh kerahasiaan, juga untuk sadar, bahwa tak semua yang ada di dunia perlu kita ketahui. Cukup saja kau kenal, dan kau ingat, bila memang perlu untuk diingat.

2.     LALU PADA AKHIRNYA; AKU
Lalu pada akhirnya, aku hanyalah seoarang anak laki-laki, yang tercipta untuk meramaikan suasana di bumi. Serta merasa bahagia, pun sebelum dan selepas kematian, bersama keluarga, dan orang-orang yang menginginkannya juga.
Sudah dulu, ya. Aku lelah bercerita. Dan terimakasih sudah mau repot-repotnya untuk membaca. Jangan sungkan untuk mengatakan bahwa tulisan ku ini keren, seperti juga penulisnya hehe.
Dan untuk yang terakhir, perkenankan aku untuk memberikan satu kalimat akhir yang wajib kau ingat sebagai awal untukmu mengenalku.

“karena hidup engga sendiri, oleh karena itu kita musti berbagi”

Source: syarwankauluqis.blogspot.com








NAMA            : SYARWAN HAMID PAMUNGKAS
NPM               : 17516256
KELAS           : 1 PA 12

DOSEN          : DRS. SUGITO MARTODIWIRYO