lebih dari pada rasa nyaman ketika aku berada di dekatmu. aku pun mencintaimu karena setiap kali kau jauh, kau tetap mampu membuatku merasa senang, oleh rindu, dan ingatan tentang senyummu yang tersirat di dalam kepalaku.
maka dari itu, aku memutuskan untuk tetap membiarkan cinta merasuki diri kita berdua. dan yakin bahwa hingga pada akhirnya, setiap pertengkaran yang terjadi tentang siapa diantara kita yang paling menyayangi, kau atau aku, ialah keributan yang malah akan membuat kita saling menguatkan.
karena kita ialah sepasang. dua menjadi satu yang menyenangkan.
untuk perempuanku.
pemilik hujan yang aku rindukan.
Rabu, 12 Oktober 2016
KAU; BEBAS
kau hanya perlu doa dan usaha untuk bisa menjadi presiden, tentara, polisi, atau pun pengusaha kaya. tapi untuk tetap menjadi dirimu sendiri, kau butuh beberapa hal dalam hidupmu, yang tak dapat kau jalani hanya dengan doa dan usaha, melainkan dengan sebuah kesadaran, bahwa kau berbeda, tak seperti yang lainnya. dengan sebuah penerimaan, bahwa apa yang orang lain miliki, tak semuanya dapat kau miliki juga. dan dengan sebuah keyakinan, bahwa apa yang kau pilih sebagai jalan, baik pun buruk mampu kau hadapi dengan kerendahan diri dan tanggung jawab.
silahkan kau untuk jadi apa saja. itu hidupmu, tentara, pengusaha, presiden, atau pun polisi, asal tak lupa untuk tetap menjadi diri sendiri, dengan pangkatmu, dengan jabatanmu, dengan kepentinganmu, dan dengan kekuasaanmu hari ini.
tapi, pun jika kau tak mau untuk tetap menjadi dirimu sendiri, itu urusanmu, bukan aku. kau berhak atas jalanmu, kau berhak atas keputusanmu untuk merubah dirimu menjadi orang lain. kau berhak untuk merasa bahwa kau ini sama seperti yang lainnya. kau berhak merasa apa yang orang lain miliki pantas untuk kau miliki juga. kau berhak atas semuanya, sebab kau tuan dari segala keinginan yang ada pada dirimu sendiri.
lagipula, terkadang, menjadi seperti orang lain akan terlihat lebih baik daripada tetap menjadi diri sendiri tapi merugikan yang lain.
SETELAHNYA
merindukan mu.
tak pernah mengenal waktu.
hujan atau pun kemarau.
merindukan mu.
tak butuh perkiraan.
karena cinta, bukan sesuatu hal yang mesti diperhitungkan.
merindukan mu.
tak pernah mengenal jarak.
jauh-dekat tarifnya tetap sama.
merindukan mu.
tak perlu dengan paksaan.
karena peluk mu ialah alasan mengapa aku ikhlas melakukan.
lalu pada setelahnya.
aku ingin sepanjang musim selalu bersama mu.
aku ingin mengira-ngira kau tahu bahwa rindu ku tak kira-kira.
aku ingin berada pada sebelah mu yang dekat dan mendekap.
dan aku ingin apa yang aku tuliskan tak cuma menjadi angan tapi kenyataan.
kemudian setelahnya lagi.
kita tak saling bertemu.
ego mu dan ego ku terlalu keras untuk mempersilahkan waktu menimang temu.
membiarkan perjumpaan mati di tengah-tengah kerinduan.
kemudian setelah setelahnya lagi.
aku berjalan menyusuri pohon-pohon dan bebatuan.
mengukir nama mu dan nama ku diatasnya.
menjadikan kita abadi pada sebatang pohon dan batu yang terkikis tajam belati.
kemudian setelah setelah setelahnya lagi.
aku, kamu, bersimpah air mata.
berpura-pura kuat menahan rindu.
padahal hati merasa luka dan pilu.
kemudian setelah dari banyaknya setelah.
kita hanyalah sepasang diksi yang puisi ku yang patah hati.
tak pernah mengenal waktu.
hujan atau pun kemarau.
merindukan mu.
tak butuh perkiraan.
karena cinta, bukan sesuatu hal yang mesti diperhitungkan.
merindukan mu.
tak pernah mengenal jarak.
jauh-dekat tarifnya tetap sama.
merindukan mu.
tak perlu dengan paksaan.
karena peluk mu ialah alasan mengapa aku ikhlas melakukan.
lalu pada setelahnya.
aku ingin sepanjang musim selalu bersama mu.
aku ingin mengira-ngira kau tahu bahwa rindu ku tak kira-kira.
aku ingin berada pada sebelah mu yang dekat dan mendekap.
dan aku ingin apa yang aku tuliskan tak cuma menjadi angan tapi kenyataan.
kemudian setelahnya lagi.
kita tak saling bertemu.
ego mu dan ego ku terlalu keras untuk mempersilahkan waktu menimang temu.
membiarkan perjumpaan mati di tengah-tengah kerinduan.
kemudian setelah setelahnya lagi.
aku berjalan menyusuri pohon-pohon dan bebatuan.
mengukir nama mu dan nama ku diatasnya.
menjadikan kita abadi pada sebatang pohon dan batu yang terkikis tajam belati.
kemudian setelah setelah setelahnya lagi.
aku, kamu, bersimpah air mata.
berpura-pura kuat menahan rindu.
padahal hati merasa luka dan pilu.
kemudian setelah dari banyaknya setelah.
kita hanyalah sepasang diksi yang puisi ku yang patah hati.
Langganan:
Postingan (Atom)