Minggu, 18 September 2016

kembalilah untuk pulang.

untuk setiap keganjilan yang selalu kau genapi,
aku merindukan kebersamaan kita yang tertuang pada satu cangkir kopi saja.

tidakkah kau ingat ?
pada sebuah gelas kopi, kita meyakini.
bahwa meminumnya bersamaan ialah cara rahasia kita untuk saling berpagutan.
kemudian saling tertawa ketika kita tahu sebuah gelas kopi bisa menjadi cinta hanya karena bibir kita.
kau pasti tertawa ketika membaca kalimat ini, iyakan ?

tidakkah kau ingat ?
pada jari-jemari yang tengadah meminta doa, kita paham.
apalah arti kita jika bukan karena kehendak sang pencipta.
biar saja kau yang panjatkan, dan aku yang mengaminkan, katamu.

tidakkah kau ingat ?
ketika kita semasih kita.
ketika yang lainnya hanyalah yang lain.
kita terus saja sibuk mencintai tanpa pernah memahami.
hingga kini kau pergi, sisalah aku yang menyesali diri didepan bingkai foto bertuliskan "Februari".

sekarang, yang ada didepanku hanyalah sebuah cangkir kopi tak berisi.
dan sepasang lengan yang kebingungan akan doa siapa lagi yang ia aminkan.

semoga saja kau mau mengerti, tuan.
karena aku yakin pada sebuah kemungkinan, kita kan lagi bersama.
dan selagi waktu mengembalikanmu kepadaku, aku akan sibuk mengoreksi diri untuk lebih baik lagi.
agar kelak ketika kau kembali, aku mampu menjadi pribadi yang kau cintai, dan kau pahami, seutuhnya.

untukmu,
laki-laki februariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar