Syarwan Hamid P
17516256
1PA10
Ilmu Budaya Dasar
3 Gangguan Kejiwaan Pada Manusia
PEMBAHASAN
1. Bipolar
A. Definisi
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang
ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar
dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk). bipolar
disorder sering kali disahalahartikan sebagai bentuk kecacatan
karakter seseorang. Ini karena ciri bipolar biasanya ditandai dengan gejolak
emosi yang berlebihan. Pada kenyatannya, bipolar adalah gangguan mental yang
disebabkan oleh faktor-faktor biologis yang berada di luar kendali
penderitanya. Beberapa faktor risiko gangguan bipolar antara lain genetik
(keturunan) dan kelainan fungsi otak.
Gangguan ini disebut bipolar (yang berarti
dua kutub) karena penderitanya menunjukkan dua kutub emosi yang sangat berbeda.
Yang pertama adalah mania, yaitu fase atau episode kebahagiaan ekstrem dan
meledak-ledak. Sementara kutub yang kedua adalah depresi. Kutub kedua ini
merupakan kebalikan drastis dari mania. Penderitanya akan memasuki fase yang
begitu sedih, sendu, tidak bersemangat, dan sangat lesu. Yang membedakan
gangguan bipolar dengan perubahan suasana hati pada umumnya
adalah intensitasnya. Penderita bipolar akan menunjukkan fase mania dan depresi
yang sangat parah sehingga mereka bisa kehilangan kendali atas emosinya
sendiri.
B. Karakteristik
Gejala utama gangguan bipolar ialah
mania/hipomania dan depresi. Gejala dari episode mania diantaranya:
·
Abnormalitas
suasana hati seperti euforia.
·
Peningkatan
energi.
·
Peningkatan
harga diri.
·
Penurunan
kebutuhan tidur.
·
Lebih
banyak berbicara dibanding biasanya.
·
Agitasi
psikomotor.
·
Memiliki
penilaian yang buruk dan mengambil keputusan secara impulsif yang mengarah pada
perilaku berbahaya.
Hipomania merupakan episode mania yang lebih
ringan dengan gejala yang sama namun terjadi dalam waktu yang lebih singkat,
biasanya 4 hari dan biasanya tidak disadari karena tidak berbeda secara
signifikan dengan kebiasaan normal (Miklowitz and Gitlin, 2014). Episode
depresi pada gangguan bipolar memiliki kriteria diagnosis dan karakterisasi
yang sama dengan gejala depresi nonbipolar. Gejala – gejala yang muncul
diantaranya:
·
Perubahan
pola tidur (insomnia atau hipersomnia)
·
Perubahan
pola makan dan berat badan.
·
Kelelahan.
·
Retardasi
atau agitasi psikomotor.
·
Adanya
perasaan tidak berharga atau rasa bersalah.
·
Penurunan
konsentrasi.
·
Memiliki
pemikiran tidak wajar seperti keinginan bunuh diri
C. Penyebab
Terjadinya
Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar
belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak
dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri
diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:
a.
Genetik
b.
Lingkungan,
meliputi kekerasan pada masa kecil, dibully, kurangnya dukungan sosial baik
dari keluarga maupun teman sebaya dan lain-lain.
D. Cara
Penanganan
1)
Terapi
Pengobatan
Ini membantu menstabilkan suasana hati pasien
dan memungkinkannya untuk melanjutkan kehidupan normal. Mereka bukan obat
penenang dan tidak menimbulkan kecanduan. Lithium adalah salah satu obat
tradisional yang digunakan, mampu mengendalikan gangguan afektif bipolar secara
efektif, dan untuk mencegah mania dan depresi berulang. Efek sampingnya
meliputi rasa haus, sering buang air kecil, tremor tangan dan jerawat tumbuh.
Penerima harus melakukan tes darah rutin untuk memantau jumlah litium dalam
darah.
2) Terapi Psikologis
Saat ini, pengobatan psikologis yang biasanya
diadopsi adalah perawatan perilaku kognitif. Psikolog klinis akan membangun
hubungan saling percaya, dan kemudian mengubah kesalahan pemuridan pasien dan
perilaku bermasalah yang tidak terkendali, dia membantu pasien memperlancar
kekhawatirannya.
3) Terapi Elektrokonvulsif
Terapi elektrokonvulsif dapat digunakan jika
obat ditemukan tidak efektif dalam mengobati gangguan afektif bipolar. Setelah
pasien memakai anestesi umum, dokter akan menggunakan sedikit arus listrik dan
melewati otak pasien untuk merangsang sistem saraf pusatnya, sehingga kondisi
pasien dapat diperbaiki. Hal ini sangat efektif bila pasien dengan depresi
berat tidak menanggapi pengobatan.
2. Pedofil
A. Definisi
Pedofilia adalah gangguan
seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah
usia 14 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil. Seseorang bisa
dianggap pedofil jika usianya minimal 16 tahun. Rata-rata
mayoritas oaring yang mengidap gangguan pedofilian adalah pria meskipun tidak
ada penelitian yang mendukung penyataan tersebut dikarenakan sulitnya mencari
sampel/subjek karena para pengidap gangguan pedofilia merupakan orang yang
secara sengaja menutup diri karena takut bertentangan dengan norma-norma
masyarakat.
B. Karakteristik
·
Pedofilia
Tipe 1
Pedofilia tipe ini tidak dapat berinteraksi
sosial dengan wanita karena kecemasan atau ketidakmampuan sosial atau keduanya.
Individu ini dapat terangsang secara seksual baik oleh obyek normal dan
anak-anak.
·
Pedofilia
Tipe 2
pedofilia ini dapat berinteraksi sosial
dengan wanita dewasa namun tidak mampu terangsang seksual oleh mereka. Mereka
hanya dapat terangsang seksual oleh anak-anak.
·
Pedofilia
Tipe 3
Pedofilia ini tidak dapat berinteraksi sosial
dengan wanita dan tidak dapat terangsang secara seksual oleh mereka. Mereka
hanya terangsang secara seksual oleh anak-anak.
C. Penyebab
Terjadinya
Penyebab pedofilia masih belum
dapat diketahui dengan jelas karena penyakit psikologis hanya baru-baru ini
dipelajari lebih lanjut. Kesulitan untuk menentukan penyebab yang pasti juga
didasari oleh perbedaan karakteristik dan latar belakang pada setiap
orang. Banyak ahli berasumsi bahwa penyebab utama datang dari faktor psikologi
sosial, bukan biologis. Beberapa dokter menyatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi kepribadian pasien adalah latar belakang keluarga yang tidak
normal. Dilecehkan pada usia dini juga dapat menjadi penyebabnya. Namun
demikian, angka kasus ini tidak banyak, sehingga tidak pasti menyebabkan
pedofilia. Sejak tahun 2002, beberapa penelitian tentang pedofilia dari
faktor-faktor biologis telah dilakukan. Beberapa faktor dan teori-teori dalam
menentukan penyebab pedofilia, seperti:
·
IQ rendah dan ingatan jangka pendek
·
Kurangnya white matter pada otak
·
Kurangnya testosteron
·
Masalah-masalah otak
Masalah pada otak adalah
penyebab yang paling diterima di antara faktor-faktor tersebut. Pada orang
normal, melihat anak-anak membuat otak mereka secara spontan menghasilkan
gelombang saraf untuk meningkatkan insting-insting melindungi dan menyayangi;
pada pedofil, gelombang saraf tersebut terganggu dan berakibat
meningkatnya gairah seksual.
D. Cara
Penanganan
Pedofilia adalah penyakit
kronis. Pengobatan Anda harus difokuskan untuk mengubah perilaku untuk jangka
panjang. Pengobatannya berupa tindakan observasi dan antisipasi
dari tindakan kriminal. Sekelompok dokter-dokter psikis akan dikerahkan
untuk mendukung para pasien. Para Psikiater/Dokter terkadang akan menganjurkan
untuk mengonsumsi pengobatan untuk mengurangi libido seperti medroxyprogesteron
asetat, obat-obatan yang mengurangi testosteron dan penghambat serotonin.
3.
Scizophrenia
A.
Definisi
Skizofrenia
merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental
yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien
biasanya menunjukkan gejala awal saat masih berusia muda, namun penyakit ini
bisa terjadi pada semua tingkatan usia dan memengaruhi baik laki-laki maupun
perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Banyak orang salah paham terhadap
pasien skizofrenia. Mereka dianggap memiliki kepribadian ganda, padahal
sebenarnya penyakit ini memengaruhi emosi, persepsi, dan pemikiran mereka, yang
menyebabkan perilaku abnormal dengan tetap satu kepribadian tunggal.
Skizofrenia bisa diobati, tetapi penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan yang
tinggi. Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik prognosis untuk
pemulihannya. Skizofrenia merupakan penyakit mental yang serius. Penyakit ini
disebabkan oleh gangguan konsentrasi neurotransmiter otak, perubahan reseptor
sel-sel otak, dan kelainan otak struktural, dan bukan karena alasan psikologis.
Pasien akan memiliki pemikiran, perasaan, emosi, ucapan, dan perilaku yang
tidak normal, yang memengaruhi kehidupan, pekerjaan, kegiatan sosial, dan
kemampuan untuk mengurus diri mereka sehari-hari. Beberapa pasien bersifat
rentan dan mencoba atau melakukan tindakan bunuh diri. Orang bisa menderita
skizofrenia di berbagai tahapan usia, tetapi gejala penyakit ini biasanya
muncul dalam rentang usia 20 hingga 30 tahun. Tingkat kekambuhannya sangat
tinggi jika tidak dilakukan tindakan pengobatan dan perawatan yang tepat.
B.
Karakteristik
1) Gejala Positif
Gejala
positif juga disebut sebagai “gejala akut”, merupakan pikiran dan indera yang
tidak biasa, bersifat surreal, yang mengarah ke perilaku pasien yang tidak
normal. Gejala-gejala ini bisa kambuh, termasuk:
· Delusi: memiliki keyakinan yang kuat terhadap
suatu hal tanpa dasar yang jelas, tetap teguh walaupun bukti menyatakan
sebaliknya dan tidak bisa dikoreksi dengan logika dan akal sehat, misalnya
berpikir bahwa dirinya dianiaya, seseorang sedang mengendalikan pikiran dan
perilakunya, atau berpikir bahwa orang lain sedang membicarakannya.
· Halusinasi: pasien merasakan sesuatu yang
sangat nyata, yang sebenarnya tidak ada, misalnya melihat beberapa gambar yang
tidak bisa dilihat oleh orang lain, mendengar suara atau sentuhan yang tidak
ada.
· Gangguan pikiran: pikiran tidak jelas,
kurangnya kontinuitas dan logika, bicara dengan tidak teratur, berbicara dengan
dirinya sendiri atau berhenti berbicara secara tiba-tiba.
· Perilaku aneh: berbicara dengan dirinya
sendiri, menangis atau tertawa secara tidak terduga atau bahkan berpakaian
dengan cara yang aneh.
2) Gejala Negatif
Gejala
negatif juga disebut sebagai “gejala kronis”, lebih sulit untuk dikenali dari
pada “gejala positif” dan biasanya menjadi lebih jelas setelah berkembang
menjadi gejala positif. Jika kondisinya memburuk, kemampuan kerja dan perawatan
diri pasien akan terpengaruh. Gejala-gejala ini antara lain:
· Penarikan sosial: menjadi tertutup, dingin,
egois, terasing dari orang lain, dll.
· Kurangnya motivasi: hilangnya minat terhadap
hal-hal di sekitarnya, bahkan kebersihan pribadi dan perawatan diri.
· Berpikir dan bergerak secara lambat.
· Ekspresi wajah yang datar.
C.
Penyebab Terjadinya
Penyebabnya
masih belum pasti. Umumnya dianggap terkait dengan lesi pada otak serta masalah
genetika dan psikologis. Beberapa studi menemukan bahwa struktur otak dan
sistem saraf pusat dari pasien skizofrenia, seperti yang ditunjukkan pada
gambar hasil pemindaian, berbeda dengan orang normal pada umumnya. Selain itu,
sekresi dopamin, neurotransmitter di otak, dari pasien skizofrenia lebih tinggi
daripada orang normal pada umumnya.
D.
Cara Penanganan
· Pemberian Obat
Obat
bisa mengurangi atau menghilangkan gejala positif dari pasien secara efektif,
misalnya delusi, halusinasi, dan pikiran yang tidak teratur. Obat juga bisa
mengendalikan kecemasan dan membantu pasien untuk kembali ke kehidupan nyata.
Namun ada efek samping dari obat yang dikonsumsi, misalnya kekakuan otot,
gerakan yang lambat, tangan gemetar, mulut kering, sembelit, kelelahan, detak
jantung yang cepat, dan peningkatan berat badan.
· Rehabilitasi
Rehabilitasi
bisa membantu dan melatih pasien untuk menghadapi dan mengelola kehidupan
mereka sehari-hari. Tergantung pada kondisi tiap individu, para ahli medis
profesional akan menetapkan program pengobatan yang sesuai bagi diri pasien,
misalnya pelatihan perawatan diri (termasuk kebersihan diri, memasak,
keselamatan rumah tangga, adaptasi terhadap masyarakat, dan penggunaan uang), pelatihan
kemampuan kerja, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dengan anggota
keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi pasien. Jika
keluarganya menghadapi pasien skizofrenia dengan cara dan sikap yang benar,
mendukung pasien dengan mengikuti program pengobatan dengan benar, dan
mengawasi perubahan kondisi dan gejalanya, maka pasien akan mendapatkan
perawatan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
A.Wiramihardja,
Sutardjo, Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.
Kartono,
Kartini, Patologi Sosial 3. Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta: CV. Rajawali,
1986.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar