Minggu, 24 November 2019

Tugas Ilmu Budaya Dasar 6


Syarwan Hamid P
17516256
1PA10
Ilmu Budaya Dasar
3 Gangguan Kejiwaan Pada Manusia

PEMBAHASAN
1.      Bipolar
A.    Definisi
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk). bipolar disorder sering kali disahalahartikan sebagai bentuk kecacatan karakter seseorang. Ini karena ciri bipolar biasanya ditandai dengan gejolak emosi yang berlebihan. Pada kenyatannya, bipolar adalah gangguan mental yang disebabkan oleh faktor-faktor biologis yang berada di luar kendali penderitanya. Beberapa faktor risiko gangguan bipolar antara lain genetik (keturunan) dan kelainan fungsi otak.
Gangguan ini disebut bipolar (yang berarti dua kutub) karena penderitanya menunjukkan dua kutub emosi yang sangat berbeda. Yang pertama adalah mania, yaitu fase atau episode kebahagiaan ekstrem dan meledak-ledak. Sementara kutub yang kedua adalah depresi. Kutub kedua ini merupakan kebalikan drastis dari mania. Penderitanya akan memasuki fase yang begitu sedih, sendu, tidak bersemangat, dan sangat lesu. Yang membedakan gangguan bipolar dengan perubahan suasana hati pada umumnya adalah intensitasnya. Penderita bipolar akan menunjukkan fase mania dan depresi yang sangat parah sehingga mereka bisa kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

B.     Karakteristik
Gejala utama gangguan bipolar ialah mania/hipomania dan depresi. Gejala dari episode mania diantaranya:
·         Abnormalitas suasana hati seperti euforia.
·         Peningkatan energi.
·         Peningkatan harga diri.
·         Penurunan kebutuhan tidur.
·         Lebih banyak berbicara dibanding biasanya.
·         Agitasi psikomotor.
·         Memiliki penilaian yang buruk dan mengambil keputusan secara impulsif yang mengarah pada perilaku berbahaya.
Hipomania merupakan episode mania yang lebih ringan dengan gejala yang sama namun terjadi dalam waktu yang lebih singkat, biasanya 4 hari dan biasanya tidak disadari karena tidak berbeda secara signifikan dengan kebiasaan normal (Miklowitz and Gitlin, 2014). Episode depresi pada gangguan bipolar memiliki kriteria diagnosis dan karakterisasi yang sama dengan gejala depresi nonbipolar. Gejala – gejala yang muncul diantaranya:
·      Perubahan pola tidur (insomnia atau hipersomnia)
·      Perubahan pola makan dan berat badan.
·      Kelelahan.
·      Retardasi atau agitasi psikomotor.
·      Adanya perasaan tidak berharga atau rasa bersalah.
·      Penurunan konsentrasi.
·      Memiliki pemikiran tidak wajar seperti keinginan bunuh diri

C.    Penyebab Terjadinya
Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:
a.       Genetik
b.      Lingkungan, meliputi kekerasan pada masa kecil, dibully, kurangnya dukungan sosial baik dari keluarga maupun teman sebaya dan lain-lain.



D.    Cara Penanganan
1)   Terapi Pengobatan
Ini membantu menstabilkan suasana hati pasien dan memungkinkannya untuk melanjutkan kehidupan normal. Mereka bukan obat penenang dan tidak menimbulkan kecanduan. Lithium adalah salah satu obat tradisional yang digunakan, mampu mengendalikan gangguan afektif bipolar secara efektif, dan untuk mencegah mania dan depresi berulang. Efek sampingnya meliputi rasa haus, sering buang air kecil, tremor tangan dan jerawat tumbuh. Penerima harus melakukan tes darah rutin untuk memantau jumlah litium dalam darah.
2)   Terapi Psikologis
Saat ini, pengobatan psikologis yang biasanya diadopsi adalah perawatan perilaku kognitif. Psikolog klinis akan membangun hubungan saling percaya, dan kemudian mengubah kesalahan pemuridan pasien dan perilaku bermasalah yang tidak terkendali, dia membantu pasien memperlancar kekhawatirannya.
3)   Terapi Elektrokonvulsif
Terapi elektrokonvulsif dapat digunakan jika obat ditemukan tidak efektif dalam mengobati gangguan afektif bipolar. Setelah pasien memakai anestesi umum, dokter akan menggunakan sedikit arus listrik dan melewati otak pasien untuk merangsang sistem saraf pusatnya, sehingga kondisi pasien dapat diperbaiki. Hal ini sangat efektif bila pasien dengan depresi berat tidak menanggapi pengobatan.

2.      Pedofil
A.      Definisi
Pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil. Seseorang bisa dianggap pedofil jika usianya minimal 16 tahun. Rata-rata mayoritas oaring yang mengidap gangguan pedofilian adalah pria meskipun tidak ada penelitian yang mendukung penyataan tersebut dikarenakan sulitnya mencari sampel/subjek karena para pengidap gangguan pedofilia merupakan orang yang secara sengaja menutup diri karena takut bertentangan dengan norma-norma masyarakat.
B.      Karakteristik
·      Pedofilia Tipe 1
Pedofilia tipe ini tidak dapat berinteraksi sosial dengan wanita karena kecemasan atau ketidakmampuan sosial atau keduanya. Individu ini dapat terangsang secara seksual baik oleh obyek normal dan anak-anak.
·      Pedofilia Tipe 2
pedofilia ini dapat berinteraksi sosial dengan wanita dewasa namun tidak mampu terangsang seksual oleh mereka. Mereka hanya dapat terangsang seksual oleh anak-anak.
·      Pedofilia Tipe 3
Pedofilia ini tidak dapat berinteraksi sosial dengan wanita dan tidak dapat terangsang secara seksual oleh mereka. Mereka hanya terangsang secara seksual oleh anak-anak.
C.      Penyebab Terjadinya
Penyebab pedofilia masih belum dapat diketahui dengan jelas karena penyakit psikologis hanya baru-baru ini dipelajari lebih lanjut. Kesulitan untuk menentukan penyebab yang pasti juga didasari oleh perbedaan karakteristik dan latar belakang pada setiap orang. Banyak ahli berasumsi bahwa penyebab utama datang dari faktor psikologi sosial, bukan biologis. Beberapa dokter menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kepribadian pasien adalah latar belakang keluarga yang tidak normal. Dilecehkan pada usia dini juga dapat menjadi penyebabnya. Namun demikian, angka kasus ini tidak banyak, sehingga tidak pasti menyebabkan pedofilia. Sejak tahun 2002, beberapa penelitian tentang pedofilia dari faktor-faktor biologis telah dilakukan. Beberapa faktor dan teori-teori dalam menentukan penyebab pedofilia, seperti:


·            IQ rendah dan ingatan jangka pendek
·            Kurangnya white matter pada otak
·            Kurangnya testosteron
·            Masalah-masalah otak
Masalah pada otak adalah penyebab yang paling diterima di antara faktor-faktor tersebut. Pada orang normal, melihat anak-anak membuat otak mereka secara spontan menghasilkan gelombang saraf untuk meningkatkan insting-insting melindungi dan menyayangi; pada pedofil, gelombang saraf tersebut terganggu dan berakibat meningkatnya gairah seksual.

D.      Cara Penanganan
Pedofilia adalah penyakit kronis. Pengobatan Anda harus difokuskan untuk mengubah perilaku untuk jangka panjang. Pengobatannya berupa tindakan observasi dan antisipasi dari tindakan kriminal. Sekelompok dokter-dokter psikis akan dikerahkan untuk mendukung para pasien. Para Psikiater/Dokter terkadang akan menganjurkan untuk mengonsumsi pengobatan untuk mengurangi libido seperti medroxyprogesteron asetat, obat-obatan yang mengurangi testosteron dan penghambat serotonin. 

3.      Scizophrenia
A.    Definisi
Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala awal saat masih berusia muda, namun penyakit ini bisa terjadi pada semua tingkatan usia dan memengaruhi baik laki-laki maupun perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Banyak orang salah paham terhadap pasien skizofrenia. Mereka dianggap memiliki kepribadian ganda, padahal sebenarnya penyakit ini memengaruhi emosi, persepsi, dan pemikiran mereka, yang menyebabkan perilaku abnormal dengan tetap satu kepribadian tunggal. Skizofrenia bisa diobati, tetapi penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi. Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik prognosis untuk pemulihannya. Skizofrenia merupakan penyakit mental yang serius. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan konsentrasi neurotransmiter otak, perubahan reseptor sel-sel otak, dan kelainan otak struktural, dan bukan karena alasan psikologis. Pasien akan memiliki pemikiran, perasaan, emosi, ucapan, dan perilaku yang tidak normal, yang memengaruhi kehidupan, pekerjaan, kegiatan sosial, dan kemampuan untuk mengurus diri mereka sehari-hari. Beberapa pasien bersifat rentan dan mencoba atau melakukan tindakan bunuh diri. Orang bisa menderita skizofrenia di berbagai tahapan usia, tetapi gejala penyakit ini biasanya muncul dalam rentang usia 20 hingga 30 tahun. Tingkat kekambuhannya sangat tinggi jika tidak dilakukan tindakan pengobatan dan perawatan yang tepat.

B.     Karakteristik
1)   Gejala Positif
Gejala positif juga disebut sebagai “gejala akut”, merupakan pikiran dan indera yang tidak biasa, bersifat surreal, yang mengarah ke perilaku pasien yang tidak normal. Gejala-gejala ini bisa kambuh, termasuk:
·      Delusi: memiliki keyakinan yang kuat terhadap suatu hal tanpa dasar yang jelas, tetap teguh walaupun bukti menyatakan sebaliknya dan tidak bisa dikoreksi dengan logika dan akal sehat, misalnya berpikir bahwa dirinya dianiaya, seseorang sedang mengendalikan pikiran dan perilakunya, atau berpikir bahwa orang lain sedang membicarakannya.
·      Halusinasi: pasien merasakan sesuatu yang sangat nyata, yang sebenarnya tidak ada, misalnya melihat beberapa gambar yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, mendengar suara atau sentuhan yang tidak ada.
·      Gangguan pikiran: pikiran tidak jelas, kurangnya kontinuitas dan logika, bicara dengan tidak teratur, berbicara dengan dirinya sendiri atau berhenti berbicara secara tiba-tiba.
·      Perilaku aneh: berbicara dengan dirinya sendiri, menangis atau tertawa secara tidak terduga atau bahkan berpakaian dengan cara yang aneh.

2)   Gejala Negatif
Gejala negatif juga disebut sebagai “gejala kronis”, lebih sulit untuk dikenali dari pada “gejala positif” dan biasanya menjadi lebih jelas setelah berkembang menjadi gejala positif. Jika kondisinya memburuk, kemampuan kerja dan perawatan diri pasien akan terpengaruh. Gejala-gejala ini antara lain:
·      Penarikan sosial: menjadi tertutup, dingin, egois, terasing dari orang lain, dll.
·      Kurangnya motivasi: hilangnya minat terhadap hal-hal di sekitarnya, bahkan kebersihan pribadi dan perawatan diri.
·      Berpikir dan bergerak secara lambat.
·      Ekspresi wajah yang datar.

C.    Penyebab Terjadinya
Penyebabnya masih belum pasti. Umumnya dianggap terkait dengan lesi pada otak serta masalah genetika dan psikologis. Beberapa studi menemukan bahwa struktur otak dan sistem saraf pusat dari pasien skizofrenia, seperti yang ditunjukkan pada gambar hasil pemindaian, berbeda dengan orang normal pada umumnya. Selain itu, sekresi dopamin, neurotransmitter di otak, dari pasien skizofrenia lebih tinggi daripada orang normal pada umumnya.
D.    Cara Penanganan
·      Pemberian Obat
Obat bisa mengurangi atau menghilangkan gejala positif dari pasien secara efektif, misalnya delusi, halusinasi, dan pikiran yang tidak teratur. Obat juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu pasien untuk kembali ke kehidupan nyata. Namun ada efek samping dari obat yang dikonsumsi, misalnya kekakuan otot, gerakan yang lambat, tangan gemetar, mulut kering, sembelit, kelelahan, detak jantung yang cepat, dan peningkatan berat badan.
·      Rehabilitasi
Rehabilitasi bisa membantu dan melatih pasien untuk menghadapi dan mengelola kehidupan mereka sehari-hari. Tergantung pada kondisi tiap individu, para ahli medis profesional akan menetapkan program pengobatan yang sesuai bagi diri pasien, misalnya pelatihan perawatan diri (termasuk kebersihan diri, memasak, keselamatan rumah tangga, adaptasi terhadap masyarakat, dan penggunaan uang), pelatihan kemampuan kerja, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dengan anggota keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi pasien. Jika keluarganya menghadapi pasien skizofrenia dengan cara dan sikap yang benar, mendukung pasien dengan mengikuti program pengobatan dengan benar, dan mengawasi perubahan kondisi dan gejalanya, maka pasien akan mendapatkan perawatan yang lebih baik.
















DAFTAR PUSTAKA

A.Wiramihardja, Sutardjo, Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.
Kartono, Kartini, Patologi Sosial 3. Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta: CV. Rajawali, 1986.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar